Skip to main content

5 Tips untuk Manajemen Kelas di Sekolah Montessori

 5 Tips untuk Manajemen Kelas di Sekolah Montessori


Saat mengamati sebuah kelas Montessori sebagai bagian dari pelatihan Montessori Anda, mungkin Anda akan terkesan. Anak-anak kecil duduk dengan tenang, berkonsentrasi dengan serius pada berbagai aktivitas di seluruh kelas. Tidak ada guru yang berkeliling menyuruh siswa untuk diam atau memberi mereka tugas. Sebaliknya, anak-anak dengan bebas memilih aktivitas dari rak dan merapikannya setelah selesai. Anak-anak tampak terlibat dan menikmatinya!

Bagaimana ini bisa terjadi? Rasanya seperti sihir! Namun, sebenarnya tidak. Semua ini berkat manajemen kelas Montessori dan pendekatan unik terhadap disiplin. Berikut adalah lima tips yang dapat membantu calon guru Montessori dan orang tua menciptakan suasana yang tenang dan produktif:

Manajemen Kelas Montessori: Pendekatan yang Berbeda

Manajemen kelas Montessori sangat berbeda dibandingkan dengan kelas tradisional. Seperti yang dikatakan Montessori dalam serangkaian kuliah yang berjudul Maria Montessori Speaks to Parents, “Mereka yang mengatakan bahwa tugas kita adalah membuat anak patuh secara membabi buta, bahwa kita berhak untuk mengoreksi, dan sebagai akibatnya anak akan menjadi cerdas, baik, dan terdidik, sedang menipu diri mereka sendiri.”

Dengan kata lain, disiplin tradisional tidak berhasil! Mengajarkan anak untuk "melakukan apa yang diperintahkan" tidak menghasilkan kesuksesan jangka panjang. Pendekatan disiplin ini menghambat pemikiran bebas, serta menumbuhkan rasa marah dan ketidaksukaan terhadap tugas-tugas sehari-hari, seperti merapikan setelah selesai.

Sebaliknya, manajemen kelas Montessori bertujuan membantu anak memahami manfaat dari perilaku baik dan kerja keras. Selain itu, pendekatan ini membantu anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Yang paling penting, manajemen kelas Montessori memenuhi kebutuhan setiap siswa dan membantu mereka berkembang hingga mencapai potensi penuh mereka.

Berikut adalah 5 tips tentang manajemen kelas Montessori yang dapat membantu Anda sebagai orang tua atau guru baru:

1. Lingkungan yang Dipersiapkan Adalah Manajemen Kelas

Kelas Montessori indah. Setiap rak berisi banyak aktivitas yang menarik dan memikat. Anak-anak tidak sabar untuk mengambil barang dari rak dan belajar!

Kebosanan adalah penyebab banyak masalah perilaku. Ketika anak-anak merasa bosan, mereka mencari sesuatu untuk dilakukan. Terkadang, itu berarti mereka akan berbuat nakal!

Namun, di kelas Montessori, hal ini bukan masalah. Selalu ada materi baru yang tersedia. Guru terus-menerus mengevaluasi apa yang perlu ditambahkan ke kelas untuk memenuhi kebutuhan dan minat setiap anak.

Anak-anak lebih cenderung berkonsentrasi dan termotivasi untuk belajar ketika ada aktivitas yang menarik untuk dinikmati. Inilah sebabnya Montessori menekankan pentingnya menyediakan lingkungan yang indah. Setiap materi harus menarik dan lengkap.

Dalam bukunya The Secret of Childhood, Montessori menulis, “Namun di lingkungan yang kami persiapkan secara khusus, kami melihat mereka langsung memusatkan perhatian pada suatu tugas, dan kemudian fantasi yang terlalu bersemangat serta gerakan mereka yang gelisah lenyap sama sekali; seorang anak yang tenang dan tenang, terhubung dengan realitas, mulai bekerja keras melalui pekerjaannya. Normalisasi telah tercapai.”

Dengan kata lain, masalah perilaku menghilang ketika anak-anak terlibat dalam pekerjaan yang menarik. Mata anak-anak akan berbinar ketika guru memperkenalkan eksperimen kepada mereka. Mereka senang mendapatkan kesempatan untuk merawat tanaman di kelas. Membaca buku bergambar di kursi yang nyaman adalah pengalaman yang menenangkan. Ini hanyalah beberapa contoh aktivitas yang menyenangkan tetapi mendidik yang tersedia di banyak kelas Montessori. Setiap hari, anak-anak menantikan banyak aktivitas yang akan mereka nikmati, sehingga tidak ada waktu untuk berperilaku buruk.

2. Disiplin Datang dari Kebebasan

Terdengar mustahil, tetapi ini benar! Ketika anak-anak bebas bergerak di dalam kelas dan memilih pekerjaan mereka sendiri, mereka menjadi disiplin. Mereka mampu berkonsentrasi dan fokus. Mengapa demikian?

Kebebasan membuat anak-anak lebih tertarik dan berkomitmen pada pekerjaan mereka. Orang dewasa juga mengalami hal ini. Ketika Anda memilih pekerjaan Anda sendiri, bukankah Anda lebih bersemangat melakukannya? Hal yang sama berlaku untuk anak-anak.

Namun, ini tidak berarti bahwa kelas Montessori tidak memiliki aturan. Siswa dalam kursus pelatihan Montessori online belajar bahwa ada satu aturan utama di kelas. Aturan itu adalah menghormati diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Ini berarti anak-anak harus membiarkan orang lain bekerja, dan mereka tidak boleh mengganggu orang lain. Mereka juga harus merawat kelas dan materi di dalamnya.

Yang luar biasa, anak-anak belajar melakukan ini seiring waktu. Akhirnya, guru Montessori hampir tidak perlu campur tangan! Bagaimana ini bisa terjadi? Anak-anak secara perlahan menjadi "ternormalisasi." Sebagai bagian dari proses ini, mereka mencapai tingkat ketiga ketaatan.

Menurut Montessori, ada tiga tingkat ketaatan.

  • Pada tingkat pertama, seorang anak kecil hanya bisa patuh jika mereka diminta melakukan sesuatu yang memang mereka ingin lakukan. Misalnya, jika seorang orang tua mengajak balita keluar, mereka mungkin setuju, tetapi hanya karena mereka juga ingin pergi keluar. Ketika orang tua mengatakan waktunya masuk ke dalam, balita akan merajuk.
  • Pada tingkat kedua, anak-anak bisa patuh jika mereka ingin menyenangkan orang yang memintanya. Misalnya, seorang dewasa meminta balita memakai jaket. Jika balita menyukai orang dewasa tersebut dan ingin membantu mereka, mereka akan memakai jaketnya. Namun, ketaatan pada tingkat ini juga bisa berubah tergantung suasana hati.
  • Pada tingkat ketiga, segalanya berubah. Ini disebut “ketaatan yang bahagia.” Anak-anak dapat melihat manfaat dari apa yang diminta, sehingga mereka melakukannya dengan senang hati! Misalnya, jika Anda meminta anak untuk membantu membersihkan, seorang anak pada tingkat ketiga ketaatan akan berpikir, "Jika saya membersihkan, ruang ini akan bersih dan siap digunakan lagi." Jadi, mereka dengan sukacita membantu membersihkan.

Guru Montessori memahami tiga tingkat ketaatan dan berusaha agar semua anak mencapai tingkat ketiga. Mereka melakukannya dengan mengundang anak-anak untuk berpartisipasi dalam komunitas kelas. Ketika mereka melihat cukup banyak siswa dan orang dewasa lainnya memodelkan perilaku yang bertanggung jawab, mereka akhirnya mengikuti.

Montessori berkata, “Guru Montessori selalu mencari anak yang belum sampai di sana.” Dengan kata lain, guru Montessori percaya bahwa setiap anak akan tumbuh menjadi anggota komunitas yang bertanggung jawab, hormat, dan penting. Ini hanya masalah waktu. Dengan perspektif ini, guru memahami bahwa anak membutuhkan dorongan dan bimbingan sepanjang perjalanan mereka.

3. Amati Terlebih Dahulu

Seperti apa perilaku buruk itu? Mungkin tidak persis seperti yang Anda bayangkan!

Jika aturan utamanya adalah bahwa anak-anak harus saling menghormati dan menghormati kelas, banyak perilaku yang sebenarnya dapat diterima. Misalnya, seorang anak dapat berkeliling kelas, mengamati orang lain, dan memikirkan pekerjaan apa yang akan dipilih. Selama mereka tidak mengganggu orang lain, mereka boleh melakukannya dengan bebas.

Montessori pernah berkata, “Hormati semua bentuk aktivitas yang masuk akal yang dilakukan anak dan cobalah memahaminya.” Dengan kata lain, cobalah untuk melihat apa tujuan anak tersebut. Amati apa yang mereka lakukan dan coba pahami alasan di balik perilaku mereka. Misalnya, balita yang bermain di toilet mungkin hanya ingin bermain dengan air! Atau, seorang anak yang berlari-lari di kelas mungkin membutuhkan pekerjaan yang memungkinkan mereka melatih keterampilan motorik kasar.

Tips manajemen kelas Montessori ini mendorong guru dan calon guru untuk mengamati dengan cermat apa yang dilakukan seorang anak. Amati sebelum campur tangan. Kemudian, jika Anda memang perlu turun tangan, Anda akan tahu bagaimana cara mendekati situasinya.

4. Cobalah Pengalihan

Salah satu strategi manajemen kelas, terutama di kelas untuk anak usia 3 hingga 6 tahun, adalah pengalihan (redirection). Apa itu pengalihan? Pengalihan adalah upaya untuk mengingatkan anak tentang perilaku yang sesuai.

Sebagai contoh, jika seorang anak meninggalkan kekacauan dan tidak merapikan pekerjaannya, guru dapat mengingatkan mereka untuk merapikannya. Seringkali, guru Montessori dapat memotivasi siswa dengan mengatakan sesuatu seperti, “Saya tahu kamu sangat pandai membersihkan, karena kemarin kamu merapikan dengan sangat baik. Bisakah kamu tunjukkan lagi kepada saya?” Jika diperlukan, guru bahkan dapat membantu anak tersebut sambil berkata, “Ayo, mari kita bersihkan bersama-sama.”

Melalui pengalihan, anak-anak mendapatkan kesempatan kedua. Mereka diberi kesempatan untuk melakukan hal yang benar! Seringkali, pengingat sederhana atau undangan untuk mencoba aktivitas baru yang menarik sudah cukup untuk membantu anak kembali ke jalur yang benar.

5. “Gluing” Dapat Membantu Siswa Fokus Kembali

Bagi siswa yang membutuhkan dukungan lebih, metode “gluing” bisa menjadi alat yang efektif. Dalam “gluing,” guru meminta anak untuk tetap berada di dekat mereka untuk sementara waktu. Misalnya, guru mungkin berkata, “Tetap di samping saya dan perhatikan saat saya memberikan presentasi ini. Lalu, kita akan menemukan sesuatu untuk dilakukan bersama.” Anak tersebut dapat belajar dari melihat anak lain yang berkonsentrasi, fokus, dan bekerja pada sebuah aktivitas. Hal ini bahkan bisa menginspirasi mereka untuk melakukan hal yang sama! Setelah itu, guru dapat membantu anak menemukan aktivitas yang menarik di kelas.

Ketika guru menyadari bahwa beberapa siswa membutuhkan banyak pengalihan (redirection) dan “gluing,” hal ini mungkin karena mereka adalah siswa baru yang belum terbiasa dengan suasana kelas. Namun, guru juga perlu mempertimbangkan lingkungan yang telah dipersiapkan. Apakah mungkin siswa tersebut membutuhkan sesuatu yang belum ada di dalam kelas? Mungkin mereka memerlukan pekerjaan yang lebih menantang atau aktivitas yang dapat merangsang indra mereka. Melalui observasi, guru dapat menemukan kebutuhan setiap anak dan membantu memenuhinya.

Tulisan ini saya ambil dari link : 

https://montessoriptc.com/5-tips-for-classroom-management-in-montessori-schools/ 

kemudian saya terjemahkan dengan menggunakan ChatGPT

Comments

Popular posts from this blog

Teknik STOP dalam Pembelajaran Sosial Emosional

PEMBELAJARAN  Sosial Emosional (PSE) merupakan pembelajaran yang bertujuan melatih kompetensi sosial emosional peserta didik, sehingga tercapai keseimbangan antara kompetensi akademik dan sosial emosional yang dapat mengantarkan mereka menjadi individu-individu yang selamat dan bahagia. PSE sangat relevan dan perlu diterapkan di Indonesia secara menyeluruh, tidak hanya secara sporadis di beberapa institusi pendidikan yang sudah mengenal konsep PSE lebih dulu, karena penerapan PSE sangat selaras dengan tujuan pendidikan nasional dan cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara dan dapat membantu dalam mencetak pelajar Indonesia dengan Profil Pelajar Pancasila. Dalam menerapkan PSE, guru dapat menggunakan berbagai macam teknik yang disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan pembelajaran, kompetensi sosial emosional yang ingin dilatih, dan jenjang pendidikan peserta didik yang diajarkan, di mana guru dapat mendesain sendiri atau memodifikasi teknik-teknik PSE yang tepat. Penerapan PSE dapat menj...

Penerapan Mindfull learning dalam mapel IPS

 penerapan mindful learning dalam mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial): 1. Peta Konsep Interaktif Aktivitas: Siswa diajak membuat peta konsep tentang suatu topik sejarah atau geografi. Mindful learning: Saat membuat peta konsep, siswa diarahkan untuk fokus pada hubungan antar konsep, menghindari penilaian terhadap ide-ide yang muncul, dan menikmati proses menghubungkan informasi. Manfaat: Membantu siswa memahami hubungan antar konsep dengan lebih baik dan meningkatkan daya ingat. 2. Simulasi Pertemuan Budaya Aktivitas: Siswa dibagi menjadi kelompok kecil dan masing-masing kelompok mewakili suatu budaya. Mereka kemudian berinteraksi satu sama lain, mensimulasikan pertemuan antar budaya. Mindful learning: Selama simulasi, siswa diajarkan untuk memperhatikan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara saat berkomunikasi. Mereka juga diajak untuk menerima perbedaan pendapat dan menghargai keberagaman budaya. Manfaat: Meningkatkan kemampuan komunikasi antar budaya...

Fasilitasi Perangkat Pembelajaran di SMPN 23 Simbang

  Dalam rangka optimalisasi perencanaan pembelajaran untuk meningkatkan pembelajaran jenjang SMP di Semester Genap Tahun Pelajaran 2024/2025, Dinas Pendidikan Kabupaten Maros melalui Pendamping Satuan Pendidikan melakukan fasilitasi terhadap guru guru yang ada di Kab. Maros. Kegiatan ini dilaksanakan dengan membentuk tim fasilitasi yang terdiri dari pendamping satuan pendidikan.   Pada UPTD SMPN 23 Simbang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Februari 2025, yang sempat tertunda karena terjadinya bencana banjir. Tim Fasilitasi yang terdiri dari H.A.Baso Amir, S.Pd., M.Pd. Indra Jaya, S.Pd., M.Pd., Misbahuddin, S.Pd., M.Pd.  melakukan pendampingan terhadap guru guru di SMPN 23 Simbang yang mengampuh setiap mata pelajaran. Tim fasilitasi dan guru melakukan koordinasi mengenai perangkat pembelajaran yang disiapkan dalam perencanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari : 1. Kalender Pendidikan 2. Capaian Pembelajaran 3. TP dan ATP 4. Modul Ajar 5....