Berbicara tentang Pembelajaran Berdiferensiasi (Differentiated Instruction/ DI) harus dimulai dengan pemahaman yang akurat tentang apa itu DI — dan apa itu yang bukan DI. Anda mungkin terkejut mengetahui betapa mudahnya Pembelajaran Berdiferensiasi dilakukan di kelas Anda.
1. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif.
Dalam kelas, guru perlu selalu berasumsi bahwa murid yang
berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda dan secara proaktif merencanakan
pembelajaran yang menyediakan berbagai cara untuk mengekspresikan dan mencapai
tujuan pembelajaran. Guru mungkin masih perlu menyempurnakan pembelajaran untuk
beberapa murid mereka, tetapi karena guru tahu beragam kebutuhan muridnya di
dalam kelas dan memilih opsi pembelajaran yang sesuai, maka kemungkinan besar
pengalaman belajar yang mereka rancang akan cocok untuk sebagian besar murid.
2. Pembelajaran Berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif
daripada kuantitatif.
Banyak guru secara salah berasumsi bahwa mendiferensiasi
pembelajaran berarti memberi beberapa murid lebih banyak pekerjaan untuk
dilakukan, dan yang lainnya lebih sedikit. Misalnya, seorang guru memberikan
murid, yang memiliki kemampuan membaca yang lebih tinggi, tugas untuk membuat
dua buah laporan buku, sementara murid yang kemampuannya lebih rendah hanya
satu laporan saja. Atau seorang murid yang kesulitan dalam pelajaran matematika
hanya diharuskan menyelesaikan tugas hitungan atau operasi bilangan, sementara
murid yang lebih tinggi kemampuan diminta menyelesaikan tugas hitungan dan
ditambah dengan soal-soal cerita.
Meskipun pendekatan diferensiasi seperti itu mungkin tampak
masuk akal, namun yang seperti itu biasanya tidak efektif. Membuat laporan
tentang satu buku bisa saja tetap akan dirasa sebagai tuntutan yang tinggi
untuk murid yang memang kesulitan. Seorang murid yang telah menunjukkan
penguasaan satu keterampilan matematika tentunya akan siap untuk mulai bekerja
dengan keterampilan yang lebih sulit. Menyesuaikan jumlah tugas biasanya akan
kurang efektif daripada mengubah sifat tugas.
3. Pembelajaran Berdiferensiasi berakar pada penilaian.
Guru yang memahami bahwa pendekatan belajar mengajar harus
sesuai dengan kebutuhan murid, akan mencari setiap kesempatan untuk mengenal
murid mereka dengan lebih baik. Mereka melihat percakapan individu, diskusi
kelas, pekerjaan murid, observasi, dan proses asesmen lainnya sebagai cara
untuk terus mendapatkan wawasan tentang apa yang paling berhasil untuk setiap
muridnya. Apa yang mereka pelajari akan menjadi katalis untuk menyusun dan
merancang pembelajaran dengan cara-cara yang membantu setiap murid
memaksimalkan potensi dan bakatnya.
Di dalam pembelajaran berdiferensiasi, penilaian tidak lagi
hanya dilakukan sebagai sesuatu yang terjadi pada akhir unit untuk menentukan
"siapa yang telah mendapatkannya atau siapa yang sudah menguasai".
Penilaian diagnostik dilakukan saat unit dimulai. Di sepanjang unit
pembelajaran, guru menilai tingkat kesiapan, minat, dan pendekatan belajar yang
digunakan murid dan kemudian merancang pengalaman belajar berdasarkan pemahaman
terbaru dan terbaik tentang kebutuhan murid. Produk akhir, atau cara lain dari
penilaian "akhir" atau sumatif, dapat dilakukan dalam berbagai
bentuk, dengan tujuan untuk menemukan cara terbaik bagi setiap murid untuk
menunjukkan hasil belajarnya.
4. Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan
terhadap konten, proses, dan produk.
Di semua ruang kelas, guru berurusan dengan setidaknya tiga
elemen kurikuler: (1) konten — masukan, apa yang dipelajari murid; (2) proses —
bagaimana murid berupaya memahami ide dan informasi; dan (3) produk — keluaran,
atau bagaimana murid menunjukkan apa yang telah mereka pelajari.
Dengan membedakan ketiga elemen ini, guru menawarkan pendekatan
berbeda terhadap apa yang dipelajari murid, bagaimana mereka mempelajarinya,
dan bagaimana mereka menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. Kesamaan dari
pendekatan yang berbeda ini adalah bahwa semuanya dibuat untuk mendorong
pertumbuhan semua murid dalam usaha mereka mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan dan untuk memajukan atau meningkatkan proses pembelajaran baik
untuk kelas secara keseluruhan maupun untuk murid secara individu.
5. Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada murid.
Pembelajaran berdiferensiasi beroperasi pada premis bahwa
pengalaman belajar paling efektif adalah ketika pembelajaran tersebut berhasil
mengundang murid untuk terlibat, relevan, dan menarik bagi murid. Akibat dari
premis itu adalah bahwa semua murid tidak akan selalu menemukan jalan yang sama
untuk belajar yang dengan cara yang sama mengundangnya, sama relevannya, dan
sama menariknya. Lebih lanjut, pembelajaran berdiferensiasi mengakui bahwa
pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang akan datang harus dibangun di
atas pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman sebelumnya — dan bahwa tidak
semua murid memiliki fondasi belajar yang sama pada awal proses pembelajaran.
Para guru yang membedakan pengajaran di kelas-kelas yang
memiliki keragaman akademis berusaha untuk memberikan pengalaman belajar yang secara
tepat menantang untuk semua murid mereka. Guru-guru ini menyadari bahwa
kadang-kadang tugas yang tidak menantang bagi beberapa peserta didik bisa jadi
sangat rumit bagi yang lain.
6. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari
pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual.
Ada waktu ketika pembelajaran seluruh kelas adalah pilihan yang
efektif dan efisien. Ini berguna untuk misalnya, membangun pemahaman bersama,
dan memberikan kesempatan untuk diskusi dan melakukan ulasan bersama yang dapat
membangun rasa kebersamaan.
Pembelajaran berdiferensiasi ditandai oleh irama berulang dari
melakukan persiapan kelas, mengulas kembali, dan berbagi, yang kemudian diikuti
oleh kesempatan untuk eksplorasi, ekstensi (pendalaman materi), dan produksi (menghasilkan
pekerjaan) individu atau kelompok kecil.
7. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat "organik" dan
dinamis.
Di setiap ruang kelas yang berbeda-beda, mengajar adalah sebuah
evolusi. Murid dan guru sama-sama menjadi pembelajar. Guru mungkin tahu lebih
banyak tentang materi pelajaran, namun mereka juga terus belajar tentang
bagaimana murid mereka belajar. Kolaborasi yang berkelanjutan dengan murid
diperlukan untuk memperbaiki peluang belajar agar efektif untuk setiap murid.
Guru memantau kecocokan antara kebutuhan murid dan proses pembelajaran mereka
serta membuat penyesuaian sebagaimana diperlukan.
Diadaptasi dari How to Differentiate Instruction in Academically
Diverse Classrooms, 3rd Edition, oleh Carol Ann Tomlinson, Alexandria, VA: ASCD. ©2017
oleh ASCD. Hak cipta terdaftar.

Comments
Post a Comment